PROMO BULAN INI

Nah.... Sekarang buat adik-adik yang dapat juara kelas !
Dapatkan Voucher Beasiswanya..

Untuk adik-adik yang :
JUARA 1 - dapat 4 bulan
JUARA 2 - dapat 3 bulan
JUARA 3 - dapat 2 bulan

Persyaratan:
Hanya lampirkan fotocopy raport sekolah pada saat pendaftaran..

Selain itu bagi yang mendaftar dapatkan HARGA KHUSUS !!!
untuk jam 13:00 - 14:00, Bisa hemat sampai Rp. 175.000,-

Buktikan Sendiri! Ayoo.. buruan daftar ya...

PASTIKAN PUTRA PUTRI ANDA LEBIH CERDAS DAN KREATIF BERSAMA KAMI MENHADAPI ERA GLOBALISASI


Gagal Dan Bangkit Lagi

Pada suatu sore, tampak seorang pemuda tengah berada si sebuah taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan, dan frustasi yang menggantung. Dia terlihat berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dan menghela napas panjang, kegiatan itu diulangnya berkali-kali, seakan dia tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.

Saat pikirannya sedang menerawang entah kemana,tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya diantara ranting sebatang pohon tempat ia duduk. Dengan kesal, ia pun kemudian iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkannya rasa kekesalannya pada sasrang laba-laba itu.maka, sarang itu pun tanpa ampun.

Seusai melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih sementara untuk mengamati ulah si laba-laba. Dalam hati dias ingin tahu, kira-kira apa yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya? Apakah laba-laba akan lari tebirit-birit atau dia akan membuat kembali sarangnya di tempat lain? Rasa penasaran itu rupanya segera mendapatkan jawaban. Tak lama, si laba-laba tampak kembali ke tempatnya semula. Laba-laba itu mulai mengulangi kegiatan yang sama, merayap-merajut-melompat. Setiap helai benang dipintalnya dari awal, semakin lama semakin lebar dan tanpa kenal lelah laba-laba itu kembali menyelesaikan seluruh pembuatan sarang barunya.

Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi dengan semangat penuh untuk memperbaiki dan membuat sarang baru, kembali ranting si pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk kedua kalinya. Dengan perasaan puas namun penuh rasa ingin tahu, diamati ulahsi laba-laba. Apa gerangan yang akan dikerjakannya setelah sarangnya dirusak untuk kedua kalinya?

Ternyata, untuk ketiga kalinya , laba-laba mengulangi kegiatannya, kembali dari awal. Dengan bersemangatmerayap-merajut-melompat dengan setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya, laba-laba itu memintal membuat sarang sedikit demi sedikit.

Setelah melihat dan mengamati ulah laba-laba tersebut dalam membangun sarang yang telah hancur untuk ketiga kalinya, saat itulah si pemuda mendadak tersadarkan. Tidak peduli berapa kali sarang laba-laba dirusak dan dihancurkan , sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. Semangat binatang yang begitu kecil, dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah, telah membuka kesadaran si pemuda.

Hal itu menimbulkan perasaan malu dirinya. Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan! Maka, melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati,” Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi! Berjuang dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang, seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali dari setiap kehancuran! “Segera, si pemuda bangkit, dan bertekad kuat untuk bekerja lebih giat lagi. Bila perlu, dia akan memulai dari awal lagi, tanpa putus asa.

Pembaca yang berbahagia,

mengalami kegagalan bukan berarti kita harus menyerah, apalagi putus asa. Sebab, sebenarbya dengan kegagalan itu berarti kita hatrus instripeksi diri dan berikhtiar lebih keras dari hari kemarin. Melalui kegagalanlah kita bisa mengevaluasi setiap langkah yang telah kita lakukan. Dengan begitu, kiata akan tahu hal apa saja yang perlu kita perbaiki dan tahu dimana saja kesalahan yang kita perbuat untuk tidak mengulanginya. Hal itu akan mendasari langkah kita kedepan menjadi lebih baik lagi. Kegagalan harusnya mulai kita pandang dari sudut yang berbeda. Kita gagal bukan berarti kita tidak sukses, melainkan kita belum sukses. Seperti kata pepatah yang sering kita dengar, Kegagalan adalah bagian kecil dari proses sebuah kesuksesan atau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Kegagalan yang kita alami justru merupakan sarana menimba pengalaman dan sarana belajar untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan.

Selama kita masih memiliki tujuan yang menyenangkan untuk dicapai, tidak pantas kita patah semangat di tengah jalan. Pada kenyataannya, tidak ada sukses sejati yang tercipta tanpa melewati kegagalan.

Jangan takut gagal! Siap bangkit! Raih kesuksesan!!
“ selama kita masih memiliki tujuan yang menyenangkan untuk dicapai, tidak pantas kita patah semangat di tengah jalan, karena dalam kenyataannya, tidak ada sukses sejati yang tercipta tanpa melewati kegagalan.”

Waktu Yang Berputar

Alkisah, ada seorang pelajar di sebuah desa kecil ayng memiliki cita-cita sebagai pegawai pemerintah. Demi mewujudkan cita-citanya, ia berangkat ke ibukota karena akan menempuh ujian Negara. Di sela perjalanan yang jauh dan melelahkan, si pelajar berhenti sejenak melepas lelah. Di tengah waktu istirahat, saking lelahnya, ia pun terbawa lamunan. Tiba-tiba, muncullah perasaan was-was terhadap kemampuan dirinya. Tapi, ia juga membayangkan seandainya bias diterima sebagai pegawai pemerintah. Di tengah keasyikkannya melamun, seorang kakek datang menghampirinya seraya menyapa,” Hai anak muda, engkau tampaknya bukan orang sini, hendak kemana?”

“ Saya hendak ke bukota Kek, mengikuti ujian Negara.”

“ Kakek perhatikan dari tadi, apa yang sedang kamu lamunkan?”

“ Ah…Bukan apa-apa Kek. Hanya saja saya ingin sekali bekerja di pemerintahan. Cuma, saya takut tidak diterima.”

Tak lama, perbincangan mereka pun makin seru. Setelah bertukar pikiran, tiba-tiba si kakek emngeluarkan suatu benda dari sakunya. Lantas, diberikannya benda itu kepada si pelajar sambil berkata, “ Mungkin ini yang kamu butuhkan Nak!”

“ Hah, sebuah gasing? Bagaimana sebuah gasing dapat mewujudkan cita-cita saya, Kek?” Tanya si pemuda keheranan.

Sang kakek menjawab,” Nak, ini adalah gasing waktu. Jika kamu memutar gasing ini ke kanan, maka kamu akan sampai ke masa depan pada saat dan keadaan yang kamu inginkan dan sebaliknya.” Setelah si pelajar menerima gasing, si akkek segera berlalu.

Merasa aneh, si pelajar segera mencoba kebenaran ucapan sang kakek. Sambil membayangkan keberhasilan dirinya lulus ujian negara, ia memutar gasing ke kanan. Tiba-tiba, si pelajar mendpati dirinya berada di depan papan pengumuman kelulusan. Si pelajar bergembira. Namun, kegembiraannya tidak bertahan lama. Muncul perasaan tidak sabar untuk segera bisa bekerja di pemerintahan. Maka, ia pun kembali memutar gasingnya ke kanan. Dalam sekejap, si pelajar sudah berada pada pekerjaanya di kantor pemerintahan.

Sayang, kenikmatan sebagai pegawai pemerintahan ternyata juga tidak bertahan lama. Timbul keinginan yang lebih, yakni ia ingin menjadi pejabat tinggi pemerintah. Maka ia pun segera memutar kembali gasingnya. Saat itu juga, ia berada dalam posisi yang diinginkan. Karena keenakan, memutar gasing unutk mempercepat waktu dan menghindari kesulitan dalam mencapai cita-cita kini menjadi kebisaan si pelajar.
Secepat gasing berputar, si pelajar pun tanpa terasa berubah menjadi tua dan menjelang ajal. Ada penyesalan dalam dirinya,” Betapa singkat dan hambarnya kehidupanku. Alangkah baiknya jika putaran gasingnya dapat mengembalikanku pada masa lalu.” Dalam kondisi putus asa, sang pelajar memutar gasing ke arah yang berlawanan. Maka, diputarnya gasing ke iri. Tiba-tiba, dia pun terbangun dari tidurnya. Ternyata, semua peristiwa tadi hanya mimpinya belaka.

Sejenak, si pelajar merasa senang dan bersyukur bahwa semua itu hanya mimpi. Dia pun berjanji pada dirinya sendiri, akan tetap berusaha dan menikmati setiap proses perjuangan untuk mencapai apa yang menjadi cita-citanya.

Pembaca yang bahagia,

Di dalam hidup ini, tidak ada jalan pintas untuk sukses sejati. Kalaupun ada pasti ada “harga” lain yang harus dibayar untuk itu. Sayangnya, kita seringkai kurang sabar dalam mencoba meraih cita-cita. Bila fokus pikiran kita dipenuhi keinginan mencapai sukses secara singkat, maka langkah yang kiata ambil bisa cenderung negatif. Bisa menghalalkan segla cara, melanggar hukum, bahkan tega mencelakai siapa pun yang mencoba menghalanginya demi memperoleh sukses secara instan. Untuk apa mengejar “sukses dengan jalan pintas” kalau hanya penyesalan yang didapat di kemudian hari? Jika siap mentalitas seperti ini yang dimiliki, kita tidak akan bias menjadi manusia tangguh dalam menghadapi segala ujian dan cobaan.

Sesungguhnya kenikmatan kesuksesan justru berada pada nilai proses perjuangan yang kita lakukan dan kemampuan kita mengatasi setiap halangan yang menghadang!

Seperti filosofi saya,” SUCCESS IS MY RIGHT!”, Sukses adalah hak saya!, juga hak setiap orang. Tapi perlu diingat, bahwa untuk meraih setiap kesuksesan, kita harus siap membayar “harga”, yakni siap bersusah payah dahulu, siap belajar dan menghadapi setiap kesuliatan yang datang dengan tetaop memegang tefuh moral dan etika sebagai landasan. Dan sekaligus mampu memperjuangkan dengan penuh semangat, pantang menyerah, demi terwujudnya kesuksesan yang kita harapkan.

“ Sesungguhnya kenikmatan kesuksesan justru berada pada nilai proses perjuangan yang kita lakukan dan kemampuan kita mangatsi setiap halangan yang menghadang.”

Hati sang Ibu

Alkisah, disebuah kerajaan, sang raja memerintah sangat mencintai rakyatnya. Dia menjalankan pemerintahan dengan bijaksana dan selalu mengharapkan semua rakyatnya hidup dalam damai dan bahagia.

Suatu ketika, raja merasa risau hatinya karena ada mendengar seorang ibu di kerajaannya yang tidak bahagia. Si ibu tua ini telah bertahun-tahun tidak pernah tertawa. Kehidupan hanya dilewati dengan bermuram durja disertai dengan kecemasan yang selalu menghias raut mukanya. Meski telah dicoba dengan berbafai macam cara, tetap saja tidak ada yang bisa membuat sang ibu tua itu tertawa.

Ibu tua itu mempunyai dua orang anak. Keduanya adalah saudagar yang sukses. Yang sulung adalah saudagar payung, sedang si bungsu adalah saudagar sepatu. Bila musim hujan tiba, ibu tua khawatir dagangan sepatu si bungsu tudak laku. Sebaliknya, bila musim panas tiba, si ibu mengkhawatirkan dagangan payung si sulung yang tidak laku. Itulah yang membuat hidup si ibu selalu diliputi dengan kekhawatiran dan kecemasan sehinga tidak bisa gembira dan tertawa.

Mendengar keadaan ini, sang raja memanggil menterinya untuk membantu kesulitan si ibu. Kata sang raja kepada bawahannya. “Siapa saja yang bisa membuat si ibu tertawa, akan disediakan hadiah khusus dari raja.”

Seorang menteri yang terkenal periang seera mengajukan dirinya sendiri dan meyanggupi membuat si ibu tertawa. Sang raja segera mnyuruh menteri menjalankan misinya. Menteri itu dipertemukan dengan ibu tua tersebut. Loantas, si menteri maju ke depan si ibu tua. Setelah memperkenalkan diri dengan wajah ceria dan senyum ramah, dia berbisik-bisik di telinga si ibu. Ajaibnya, setelah mendengar bisikan si emnteri, raut muka si ibu berubah ceria dan perlahan mulai tersenyum, bahkan kemudian tertawa-tawa kecil dengan gembira.

Sang raja dan semua yang hadir disitu keheranan dan penasaran bertanya-tanya, apa gerangan kata-kata yang dibisikkan si menteri. Si menteri menjawab,” Sangat sederhana Baginda. Saya cuma bilang, saat musim hujan tiba, ingatlah dagangan payung si sulung yang bakal laku keras. Bayangkan keuntungan dan kebahagiaan si sulung dan keluarganya di musim hujan. Kemudian, jika saat kemarau tiba, cobalah ingat dagangan sepatu anak bungsunya yang pasti laku keras, dimana saat itu tentu si bungsu tengah menghitung setiap sen keuntungan yang masuk ke kantongnya. Saya juga menasehatinya, agar jangan berpikir yagn tidak laku, tetapi berpikirlah yang laku saja. Pikirkanlah sisi yang menbahagiakan. Tuhan pasti selalu menyayangi umatnya yang mau bersyukur dan mau mengharfai rejeki yang dilimpahkan oleh-Nya. “Raja senang sekali melihat tawa bahagia si ibu tua dan segera memberi hadiah kepada menterinya.”

“ Terima kasih baginda. Sungguh hamba tidak mengharapkan hadiah ini. Justru hamba merasa bahagia dan bersyukur telah menjadi pembantu baginda raja yang bijak dan perhatian kepada rakyatnya. Semoga bagonda senantiasa diberi kesehatan dan umur panjang oleh Yang Maha Kuasa,” ucap si menteri sambil menerima hadiah dengan penuh senyum sang raja.

Pembaca yang berbahagia,

Mausia memang kadang-kadang hanya melihat keadaan dari sisi yang negatif dan yang merugikan saja. Akibatnya, manusia menjadi korban dari cara pandang yang sempit dan dangkal. Segala sesuatu yang dipandang negatif itu akan mempengaruhi pola pikir sehingga yang negatif menutupi hasil lain yang lebih positif.

Kadang, saat kita gagal, kita lupa bahwa kita pernah berhasil. Hal inilah yang sering kali melemahkan mental kita, kadang membuat kita tak bersemangat dalam hidup. Akibatnya, masalah yang terkesan sepele menjadi terasa sangat berat. Kesalahan kecil yang seharusnya bisa segera diperbaiki, justru menjadi berlarut-larut. Jika itu yang terjadi, semangat luar biasa yang seharusnya bisa membangkitkan diri, kita bisa tenggelam oleh pandangan yang salah tentang kehidupan ini.

Karena itu, kita perlu mengubah pola pikir kita. Lita harus melihat dari berbagai sisi kehidupan. Nbahwa roda kehidupan selalu berputar. Saat mengalami masalah atau kegagalan, kita perlu mengingat masa dimana kita pernah berhasil. Dengan begitu, semangat kita akan terus menyala untuk membangkitkan diri kita dari keterpurukan mental.

Bila kita mampu melihat sisi yang positif dari setiap situasi yang muncul, semua yang tadinya gelap bisa menjadi terang. Yang tadinya negatif, akan berubah menjadi positif. Perasaan yang cemas dan gelisah akan berubah menjadi sesuatu yang menggembirakan. Sesungguhnya, dalam menghadapi semua situasi yang berubah terus-menerus, selama kita memiliki kebijakan dan kekayaan mental dalam menghadapi semua itu, niscaya kita akan menjadi pemenang yang sesungguhnya.

“Setiap menghadapi situasi yang berubah terus menerus, selam kita memiliki kebijakan dan kekayaan mental dalam menghadapinya, niscaya kita akam menjadi pemenang yang sesungguhnya.”